<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:SimSun; panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; mso-font-alt:宋体; mso-font-charset:134; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@SimSun”; panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; mso-font-charset:134; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:none; font-size:10.5pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:SimSun; mso-font-kerning:1.0pt; mso-fareast-language:ZH-CN;} p.Style6, li.Style6, div.Style6 {mso-style-name:”_Style 6″; mso-style-unhide:no; mso-style-parent:”_Style 1″; mso-style-next:”_Style 1″; margin-top:5.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:5.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:none; mso-outline-level:4; text-autospace:none; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:SimSun; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} p.Style1, li.Style1, div.Style1 {mso-style-name:”_Style 1″; mso-style-unhide:no; mso-style-parent:”"; margin-top:5.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:5.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:none; text-autospace:none; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:SimSun;} p.Style5, li.Style5, div.Style5 {mso-style-name:”_Style 5″; mso-style-unhide:no; mso-style-parent:”_Style 1″; mso-style-next:”_Style 1″; margin-top:5.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:5.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:none; mso-outline-level:3; text-autospace:none; font-size:18.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:SimSun; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-fareast-font-family:SimSun;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:72.0pt; mso-footer-margin:72.0pt; mso-paper-source:0; layout-grid:15.6pt;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:0; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:0;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:21.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:21.0pt; text-indent:-21.0pt; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau. Indonesia terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia/Oceania. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi.Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>kebudayaan<!–[if supportFields]><![endif]–> lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Indonesia<!–[if supportFields]><![endif]–> pada tahun <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1945<!–[if supportFields]><![endif]–>. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.
Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Tionghoa<!–[if supportFields]><![endif]–>, kebudayaan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>India<!–[if supportFields]><![endif]–> dan kebudayaan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Arab<!–[if supportFields]><![endif]–>. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Hindu<!–[if supportFields]><![endif]–> dan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Buddha<!–[if supportFields]><![endif]–> di <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Nusantara<!–[if supportFields]><![endif]–> jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Masehi<!–[if supportFields]><![endif]–> ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Kutai<!–[if supportFields]><![endif]–>, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.
Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (<!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Sriwijaya<!–[if supportFields]><![endif]–>). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Tiongkok<!–[if supportFields]><![endif]–> dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Jawa<!–[if supportFields]><![endif]–> dan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Betawi<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi,
Lima pulau besar di Indonesia adalah : Sumatera dengan luas 473.606 km persegi, Jawa dengan luas 132.107 km persegi, Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia) dengan luas 539.460 km persegi, Sulawesi dengan luas 189.216 km persegi, dan Papua dengan luas 421.981 km persegi.
SEJARAH GEOLOGI
Pulau-pulau Indonesia terbentuk pada jaman Miocene (12 juta tahun sebelum masehi); Palaeocene ( 70 juta tahun sebelum masehi); Eocene (30 juta tahun sebelum masehi); Oligacene (25 juta tahun sebelum masehi). Sehubungan dengan datangnya orang-orang dari tanah daratan Asia maka Indonesia dipercaya sudah ada pada jaman Pleistocene (4 juta tahun sebelum masehi). Pulau-pulau terbentuk sepanjang garis yang berpengaruh kuat antara perubahan lempengan tektonik Australia dan Pasifik. Lempengan Australia berubah lambat naik kedalam jalan kecil lempeng Pasifik, yang bergerak ke selatan, dan antara garis-garis ini terbentanglah pulau-pulau Indonesia.
Ini membuat Indonesia sebagai salah satu negara yang paling banyak berubah wilayah geologinya di dunia. Pegunungan-pegunungan yang berada di pulau-pulau Indonesia terdiri lebih dari 400 gunung berapi, dimana 100 diantaranya masih aktif. Indonesia mengalami tiga kali getaran dalam sehari, gempa bumi sedikitnya satu kali dalam sehari dan sedikitnya satu kali letusan gunung berapi dalam setahun.
DEMOGRAFI
<!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Indonesia<!–[if supportFields]><![endif]–> memiliki jumlah penduduk sebesar 245 juta jiwa, menjadikan negara ini negara dengan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>penduduk terpadat ke-4 di dunia<!–[if supportFields]><![endif]–>. Pulau <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Jawa<!–[if supportFields]><![endif]–> merupakan salah satu daerah terpadat di dunia, dengan lebih dari 107 juta jiwa tinggal di daerah dengan luas sebesar <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>New York<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang berhubungan namun berbeda. Sejak kemerdekaannya <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Bahasa Indonesia<!–[if supportFields]><![endif]–> (sejenis dengan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Bahasa Melayu<!–[if supportFields]><![endif]–>) menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun bahasa daerah juga masih tetap banyak dipergunakan.
Penduduk Indonesia dapat dibagi secara garis besar dalam dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya kebanyakan adalah suku Melayu sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda atau Batak.
Penduduk
Migrasi penduduk besar-besaran ke wilayah Indonesia dari Hindia Belakang diyakini setidak-tidaknya terjadi atas 2 gelombang migrasi. Migrasi besar-besaran pertama, beberapa abad sebelum Masehi, saat ini dikenal sebagai <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>rumpun Proto-Melayu<!–[if supportFields]><![endif]–> yang hidup di daerah pedalaman dan pegunungan diwilayah Nusantara; dan migrasi besar-besaran kedua menjelang abad Masehi, saat ini hidup didaerah pesisir dan dataran rendah dikenal sebagai <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>rumpun Deutro-Melayu<!–[if supportFields]><![endif]–>. Ras di Indonesia sebagian besar adalah <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>ras Sinida<!–[if supportFields]><![endif]–> dari <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>rumpun bangsa Mongoloid<!–[if supportFields]><![endif]–> mendiami Daratan Indonesia bagian Barat dan Daratan Indonesia Bagian Tengah; sebagian kecil, terutama di Daratan Indonesia Bagian Timur didiami oleh <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>ras Melanesia<!–[if supportFields]><![endif]–> dari <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>rumpun bangsa Australoid<!–[if supportFields]><![endif]–>.
<!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Imigran<!–[if supportFields]><![endif]–> ke Indonesia terutama dari China tenggara, merupakan penduduk keturunan asing yang terbanyak, menyebar hampir di semua kota besar di Indonesia. Demikian pula pendatang dari Arab, Hadramaut -Yaman merupakan kelompok pendatang kedua terbanyak dan disusul oleh pendatang dari India dan sekelompok kecil dari Eropa. Suku bangsa pribumi yang terbanyak persentasenya di Indonesia adalah <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>suku Jawa<!–[if supportFields]><![endif]–> dan disusul oleh <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>suku Sunda<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Dari segi kependudukan, Indonesia masih menghadapi beberapa masalah besar anatara lain :
l <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Penyebaran penduduk<!–[if supportFields]><![endif]–> tidak merata, sangat padat di Jawa – sangat jarang di Kalimantan dan Irian.
l <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Piramida penduduk<!–[if supportFields]><![endif]–> masih sangat melebar, kelompok balita dan remaja masih sangat besar.
l <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Angkatan kerja<!–[if supportFields]><![endif]–> sangat besar, perkembangan lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penambahan angkatan kerja setiap tahun.
l <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Distribusi Kegiatan Ekonomi<!–[if supportFields]><![endif]–> masih belum merata, masih terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar dipulau Jawa.
l <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Pembangunan Infrastruktur<!–[if supportFields]><![endif]–> masih tertinggal; belum mendapat perhatian serius.
l <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Indeks Kesehatan<!–[if supportFields]><![endif]–> masih rendah; Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih tinggi.
Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah Etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke nusantara dengan jalur perdagangan sejak abad ke 8 SM dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 3% populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930-an terakhir kalinya pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.
Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%); Katolik (3%); Hindu (1,8%); Buddha (0,8%); dan lain-lain (0,3%).
Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi Indonesia, bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
POLITIK
Di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi yang ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di daerahnya masing-masing.
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi negara. Keanggotaan MPR berubah setelah Amandeman UUD 1945 pada periode 1999-2004. Seluruh anggota MPR adalah anggota DPR ditambah anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan. Anggota MPR saat ini terdiri dari 550 anggota DPR dan 128 anggota DPD. Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan lima tahun. Sejak 2004, MPR adalah sebuah parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD sebagai kamar kedua.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidenstil sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen.
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, termasuk pengaturan administrasi para Hakim.
PROVINSI
Indonesia saat ini memiliki 33 provinsi (termasuk 2 Daerah Istimewa (DI) dan satu Daerah Khusus Ibukota (DKI). Kedua DI tersebut adalah Nanggroe Aceh Darussalam dan Daerah Istimewa Yogyakarta sedangkan Daerah Khusus Ibukotanya adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebelum tahun 1999, Timor Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.
|
Daftar Provinsi di Indonesia |
|
|
Sumatra |
|
|
Nanggroe Aceh Darussalam | Sumatera Utara | Sumatera Barat | Bengkulu | Riau | Kepulauan Riau | Jambi | Sumatera Selatan | Lampung | Kepulauan Bangka Belitung |
|
|
Jawa |
|
|
Jakarta | Jawa Barat | Banten | Jawa Tengah | DI Yogyakarta | Jawa Timur |
|
|
Kalimantan |
|
|
Kalimantan Barat | Kalimantan Tengah | Kalimantan Selatan | Kalimantan Timur |
|
|
Nusa Tenggara |
|
|
Bali | Nusa Tenggara Barat | Nusa Tenggara Timur |
|
|
Sulawesi |
|
|
Sulawesi Barat | Sulawesi Utara | Sulawesi Tengah | Sulawesi Selatan | Sulawesi Tenggara | Gorontalo |
|
|
Kepulauan Maluku dan Papua |
|
|
Maluku | Maluku Utara | Papua Barat | Papua |
|
EKONOMI
Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu. Ekonominya kini telah lumayan stabil saat ini.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Indonesia adalah pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah dan karet.
Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara tetangganya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.
Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan korupsi yang merajalela dalam pemerintah.
Bank sentral Indonesia adalah Bank Indonesia.
Indonesia juga memiliki ekonomi berbasis-pasar di mana pemerintah memainkan peranan penting. Pemerintah memiliki lebih dari 164 <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>BUMN<!–[if supportFields]><![endif]–> dan menetapkan harga beberapa barang pokok, termasuk <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>bahan bakar<!–[if supportFields]><![endif]–>, <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>beras<!–[if supportFields]><![endif]–>, dan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>listrik<!–[if supportFields]><![endif]–>. Setelah <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>krisis finansial Asia<!–[if supportFields]><![endif]–> yang dimulai pada pertengahan 1997, pemerintah menjaga banyak porsi dari <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>aset<!–[if supportFields]><![endif]–> sektor swasta melalui pengambilalihan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>pinjaman bank tak berjalan<!–[if supportFields]><![endif]–> dan asset perusahaan melalui proses penstrukturan hutang.
Latar belakang
Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Orde Baru<!–[if supportFields]><![endif]–> Presiden <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Soeharto<!–[if supportFields]><![endif]–>, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>$<!–[if supportFields]><![endif]–>70 menjadi lebih dari $1.000 pada <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1996<!–[if supportFields]><![endif]–>. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5%-10%, <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>rupiah<!–[if supportFields]><![endif]–> stabil dan dapat diterka, dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari anggaran pembangunan dibiayai melalui <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>bantuan asing<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Pada pertengahan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1980-an<!–[if supportFields]><![endif]–> pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini ditujukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GDP nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1987<!–[if supportFields]><![endif]–>-<!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1997<!–[if supportFields]><![endif]–>, dan banyak analisis mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang.
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>kebangkrutan<!–[if supportFields]><![endif]–>. Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan-”collateral” menyebabkan perluasan dan pelanggaran peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik, dan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>hambatan ekspor<!–[if supportFields]><![endif]–> seluruhnya menciptakan gangguan ekonomi.
Krisis finansial <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Asia Tenggara<!–[if supportFields]><![endif]–> yang melanda Indonesia pada akhir <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1997<!–[if supportFields]><![endif]–> dengan cepat berubah menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap masalah ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>inflasi<!–[if supportFields]><![endif]–> dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya. Pada Oktober 1997, Indonesia dan <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>International Monetary Fund<!–[if supportFields]><![endif]–> (IMF) mencapai kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak, antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya Presiden Suharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998. Di bulan Agustus 1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana di bawah Presiden <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>B.J Habibie<!–[if supportFields]><![endif]–>. Presiden <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>Gus Dur<!–[if supportFields]><![endif]–> yang terpilih sebagai presiden pada Oktober <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>1999<!–[if supportFields]><![endif]–> kemudian memperpanjang program tersebut.
Kajian Pengeluaran Publik
Sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 1990-an, yang memiliki andil atas jatuhnya rezim Suharto pada bulan Mei 1998, keuangan publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi yang sangat besar dan penurunan yang sejalan dalam pengeluaran publik. Tidak mengherankan utang dan subsidi meningkat secara drastis, sementara belanja pembangunan dikurangi secara tajam.
Saat ini, satu dekade kemudian, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting defisit anggaran yang sangat rendah. Juga cara pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui “perubahan besar” desentralisasi tahun 2001 yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006. Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005, harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makroekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat resiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak.
Keputusan tersebut memberikan US$10 milyar <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[4]<!–[if supportFields]><![endif]–> tambahan untuk pengeluaran bagi program pembangunan. Sementara itu, pada tahun 2006 tambahan US$5 milyar <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[5]<!–[if supportFields]><![endif]–> telah tersedia berkat kombinasi dari peningkatan pendapatan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil secara keseluruhan dan penurunan pembayaran utang, sisa dari krisis ekonomi. Ini berarti pada tahun 2006 pemerintah mempunyai US$15 milyar <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[6]<!–[if supportFields]><![endif]–> ekstra untuk dibelanjakan pada program pembangunan. Negara ini belum mengalami ‘ruang fiskal’ yang demikian besar sejak peningkatan pendapatan yang dialami ketika terjadi lonjakan minyak pada pertengahan tahun 1970an. Akan tetapi, perbedaan yang utama adalah peningkatan pendapatan yang besar dari minyak tahun 1970-an semata-mata hanya merupakan keberuntungan keuangan yang tak terduga. Sebaliknya, ruang fiskal saat ini tercapai sebagai hasil langsung dari keputusan kebijakan pemerintah yang hati hati dan tepat.
Walaupun demikian, sementara Indonesia telah mendapatkan kemajuan yang luar biasa dalam menyediakan sumber keuangan dalam memenuhi kebutuhan pembangunan, dan situasi ini dipersiapkan untuk terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, subsidi tetap merupakan beban besar pada anggaran pemerintah. Walaupun terdapat pengurangan subsidi pada tahun 2005, total subsidi masih sekitar US$ 10 milyar <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[7]<!–[if supportFields]><![endif]–> dari belanja pemerintah tahun 2006 atau sebesar 15 persen dari anggaran total.
Berkat keputusan pemerintahan Habibie (Mei 1998 – Agustus 2001) untuk mendesentralisasikan wewenang pada pemerintah daerah pada tahun 2001, bagian besar dari belanja pemerintah yang meningkat disalurkan melalui pemerintah daerah. Hasilnya pemerintah propinsi dan kabupaten di Indonesia sekarang membelanjakan 37 persen <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[8]<!–[if supportFields]><![endif]–> dari total dana publik, yang mencerminkan tingkat desentralisasi fiskal yang bahkan lebih tinggi daripada rata-rata OECD.
Dengan tingkat desentralisasi di Indonesia saat ini dan ruang fiskal yang kini tersedia, pemerintah Indonesia mempunyai kesempatan unik untuk memperbaiki pelayanan publiknya yang terabaikan. Jika dikelola dengan hati-hati, hal tersebut memungkinkan daerah-daerah tertinggal di bagian timur Indonesia untuk mengejar daerah-daerah lain di Indonesia yang lebih maju dalam hal indikator sosial. Hal ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk fokus ke generasi berikutnya dalam melakukan perubahan, seperti meningkatkan kualitas layanan publik dan penyediaan infrastruktur seperti yang ditargetkan. Karena itu, alokasi dana publik yang tepat dan pengelolaan yang hati-hati dari dana tersebut pada saat mereka dialokasikan telah menjadi isu utama untuk belanja publik di Indonesia kedepannya.Sebagai contoh, sementara anggaran pendidikan telah mencapai 17.2 persen <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[9]<!–[if supportFields]><![endif]–> dari total belanja publik- mendapatkan alokasi tertinggi dibandingkan sektor lain dan mengambil sekitar 3.9 persen <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[10]<!–[if supportFields]><![endif]–> dari PDB pada tahun 2006, dibandingkan dengan hanya 2.0 persen dari PDB pada tahun 2001<!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[11]<!–[if supportFields]><![endif]–> – sebaliknya total belanja kesehatan publik masih dibawah 1.0 persen dari PDB <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[12]<!–[if supportFields]><![endif]–>. Sementara itu, investasi infrastruktur publik masih belum sepenuhnya pulih dari titik terendah pasca krisis dan masih pada tingkat 3.4 persen dari PDB <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[13]<!–[if supportFields]><![endif]–>. Satu bidang lain yang menjadi perhatian saat ini adalah tingkat pengeluaran untuk administrasi yang luar biasa tinggi. Mencapai sebesar 15 persen pada tahun 2006 <!–[if supportFields]> \* MERGEFORMAT <![endif]–>[14]<!–[if supportFields]><![endif]–>, menunjukkan suatu penghamburan yang signifikan atas sumber daya publik.
SENI BUDAYA
Jenis kesenian di Indonesia banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan. Tari Jawa dan Bali yang terkenal, misalnya, berisi aspek-aspek kebudayaan dan mitologi Hindu.
Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatra seperti tari Saman Meusukat dan Tari Seudati dari Nanggroe Aceh Darussalam.
Selain itu yang cukup terkenal di dunia adalah wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis. Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.
Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Solo, dan juga Pekalongan.
Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya.
Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Musik tradisional termasuk juga keroncong Jawa dikenali oleh hampir semua rakyat Indonesia, namun yang lebih berkuasa dalam paras lagu di Indonesia yaitu seni lagu modern kemudian Dangdut. Dangdut adalah salah satu musik Indonesia yang sudah merakyat di wilayah Nusantara, yang dipadu dari unsur musik Melayu, India, dan juga musik tradisional Indonesia. Dinamakan Dangdut karena suara musik yang terdengar adalah suara ‘dang’ dan ‘dut’ dan musik Dangdut lebih dikuasai oleh suara gendang dan suling. Lagu-lagu dangdut biasanya didendangkan oleh pedangdut dengan goyangannya yang seronok dan lemah gemulai yang disesuaikan dengan tempo lagunya. Ada berbagai macam corak musik Dangdut, antara lain Dangdut Melayu, Dangdut Modern (Dangdut masa kini yang alat musiknya telah ditambah dengan alat musik modern); dan Dangdut Pesisir (Lagu dangdut tradisional Jawa, Sunda, dll). Pada tahun 70-an, dangdut lebih dikenal sebagai aliran musik orkes Melayu, yang kemudian pada awal tahun 80-an ia lebih dikenal dengan sebutan Dangdut.
Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama serta kepercayaan yang berbeda. Ada Batak, Karo, Minangkabau, Melayu di Sumatra dan sebagainya.
Tarian
Sarinande (Maluku)
Selendang Mayang (Jambi)
Sengko-Sengko (Sumatera Utara)
Sinanggar Tulo (Sumatera Utara)
Sing Sing So (Sumatera Utara)
Sinom (Yogyakarta)
Si Patokaan (Sulawesi Utara)
Sitara Tillo (Sulawesi Utara)
Soleram (Riau)
Surilang (Jakarta)
Suwe Ora Jamu (Yogyakarta)
Tanduk Majeng (Jawa Timur)
Tanase (Maluku)
Tari Tanggai (Sumatera Selatan)
Tebe Onana (Nusa Tenggara Barat)
Te Kate Dipanah (Yogyakarta)
Tokecang (Jawa Barat)
Tondok Kadadingku (Sulawesi Tengah)
Tope Gugu (Sulawesi Tengah)
Tumpi Wayu (Kalimantan Tengah)
Tutu Koda (Nusa Tenggara Barat)
Terang Bulan (Jakarta)

