PEMAHAMAN MENGENAI UDARA

Posted: May 2, 2009 in News n Funs

Pengetahuan adalah kekuatan!
Menurut data WHO, setiap tahun sekitar 3 juta orang meninggal karena polusi udara atau sekitar 5 % dari 55 juta orang yang meninggal setiap tahun di dunia. 1.500 juta orang yang meninggal sebelum waktunya terjadi di kota-kota Asia. Lebih banyak lagi menderita masalah kesehatan yang parah dari efek samping polusi udara. Kehidupan yang produktif diperpendek oleh masalah kesehatan yang disebabkan oleh menghirup udara yang kotor. Enam dari 15 kota yang paling terpolusi di dunia terdapat di Asia. Posisi yang paling tinggi adalah 1.Katmandu, Nepal, 2. New Dehli, India, 3. Jakarta, Indonesia bersama dengan Chongqing, China, 4. Calcutta, India. Sepertiga dari pencamaran karbondioksida di dunia dikeluarkan di daerah ini.

Apakah Anda kurang tidur karena polusi udara?
Bank Dunia di Asia memperkirakan bahwa sejumlah besar masyarakat perkotaan di Asia Timur dan Pasifik kehilangan lebih dari 12 tahun yang produktif karena cacat disebabkan oleh polusi udara. WHO memperkirakan pengeluaran sekitar triliunan dolar untuk pengobatan medis demi menyembuhkan orang yang menderita penyakit yang disebabkan oleh polusi udara.‘The Clean Air Initiative for Asian Cities’ (CAI), suatu proyek yang dimulai pada 2001 oleh Asian Development Bank dan Bank Dunia menyadari bahwa kualitas udara di Asia menjadi lebih buruk dalam tahun-tahun terakhir karena urbanisasi dan pencemaran yang meningkat di banyak kota.
Situasi ini dapat diperbaiki melalui manajemen udara yang baik oleh pemerintah dan didukung oleh kesadaran mashyarakat yang lebih besar tentang hal ini. Contoh yang baik adalah Bangkok, di mana jarak pandang di bandara telah meningkat dari 5 kilometer pada 1996 menjadi 9 kilometer pada 2000.

Masalah kesehatan yang disebabkan polusi udara:
Penyakit pernapasan
Astma
Penyakit “chronic obstructive pulmonary”
Penyakt cardio vaskuler
Kanker paru-paru

Bagiamana dengan udara di Jakarta?
Suatu dokumen Bank Dunia “Perkiraan pengaruh bahan pencemar udara pada kesehatan; suatu metode yang diterapkan di Jakarta” menyebutkan bahwa:
“Di Jakarta tampaknya mengurangi kedekatan dengan bahan pencemar udara di luar dan di dalam menghaslikan manfaat yang berarti. Misalnya, jika konsentrasi unsure partikel dikurangi dalam setahun sampai setengah standard petunjuk WHO (dan standard US dahulu) perkiraannya menunjukkan bahwa yang meninggal sebelum waktunya berkurang 1.400 orang per tahunnya (dengan jarak 900-1.900) 49.000 kunjungan ruangan darurat, 600.000 serangan astma, 7.6 juta hari yang kurang produktif (termasuk kehilangan pekerjaan) 124.000 kasus bronkitis pada anak–anak dan 37 juta kasus dengan gejala pernapasan yang lain. Untuk Jakarta dianjurkan untuk memberi prioritas kepada pengurangan pemakaian timah dan nitrogen dioksida. Efek polusi timah adalah berkurangnya kemampuan belajar pada anak-anak disebut sebagai kehilangan IQ”.

“Penyakit-penyakit pernapasan adalah pembunuh nomor satu“ suatu artikel dari Sari Setiologi (The Jakarta Post, 2. Sept.2003). Seorang ahli mengatakan, penyakit pernapasan menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia, dari nomor tiga pada tahun 1997 dan nomor enam pada tahun 1993. Pulmologist Ida Bernida mengatakan pada hari Kamis bahwa polusi udara menjadi lebih buruk pada sepuluh tahun terakhir, membuat penyakit pernapasan bertambah parah, termasuk tuberculosis (TBC) astma, kanker paru-paru, chronic obstructive pulmonary disease(COPD) dan pneumonia. Dia mengatakan penyakit cadiovascular dan kanker berturut-turut menjadi pembunuh nomor dua dan nomor tiga.

Kenyataannya untuk Jakarta adalah bahwa polusi udara akan lebih meningkat pada masa yang akan datang daripada menurun, terutama disebabkan oleh jumlah kendaraan bermotor yang meningkat. Sekitar 70% dari polusi udara di Jakarta berasal dari bahan pencemar udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor, sedangkan sisanya 30% berasal dari pencemaran industri. Departemen Polisi Lalu lintas Jakarta memperkirakan kenaikan jumlah kendaraan sekitar 5% per bulan. Kendaraan ini memakai banyak bahan bakar diesel, bensin premium, minyak tanah dan gas. Seringkali diesel yang dijual di Jakarta memiliki kualitas yang rendah dan melepaskan banyak bahan belerang. Pemerintah sudah memperkenalkan bensin yang tidak mengandung timah untuk memperbaiki udara di Jakarta. Meskipun begitu menurut para ahli, udara kota masih mengandung substansi yang berbahaya ini, disebabkan oleh ribuan kendaraan dari luar kota yang menuju Jakarta setiap harinya dan melepaskan timah. Tingkat kandungan timah yang tinggi dalam darah manusia, khususnya anak-anak dapat menyebabkan anemia, kecerdasan rendah, masalah perilaku, mempengaruhi kesuburan dan mengganggu sistem syaraf. Sebenarnya menghilangkan bensin yang mengandung timah tahap demi tahap adalah suatu prestasi yang bermanfaat yang perlu diteruskan. Pada waktu yang sama masyarakat harus diberitahukan bahwa timah diganti oleh substansi “high octane mogas component” (HOMC) yang mengandung olefin dan aromatic. Seperti timah, olefin dan aromatic adalah oktan yang kotor, yang bisa merusak mesin kendaraan dan kesehatan orang di Jakarta.
Walaupun pemerintah mewajibkan pemilik-pemilik mobil untuk mengikuti tes pencemaran, 77,6% dari kendaraan umum dan komersial di kota tidak lulus. Mayoritas kendaraan pribadi juga gagal. Langkah yang positif terhadap upaya memperbaiki udara di dalam kota kita adalah menyediakan lebih banyak wilayah hijau. Pohon pohon dapat menyerap bahan-bahan gas dan menyeimbangi kondisi dengan metabolismenya dan juga dapat menyerap bahan yang halus yang ukurannya kurang dari 10 microns. Target pemerintah adalah wilayah hijau merupakan 13.9 % dari Jakarta pada tahun 2010, tetapi itupun tidak cukup untuk menyeimbangi udara yang sangat kotor. Menurut para ahli lingkungan dan Forum Lingkungan Indonesia ( WALHI) 30 % adalah ratio yang ideal untuk wilayah hijau. Polusi udara tidak hanya mempengaruhi wilayah di mana pencemar dilepaskan. Angin, tekanan udara, dan angin ribut membawa partikel sampai wilayah dan negara yang letaknya jauh. Oleh karena ini ilmuan menyebut hutan sebagai paru-paru bumi kita. Hutan hujan yang dimiliki Indonesia adalah yang ketiga terbesar di dunia setelah Brasil dan Congo. Meskipun begitu, setiap dua tahun Indonesia kehilangan sekitar empat juta hektar dari hutan, suatu wilayah yang hampir sama dengan ukuran negara Swiss yang disebabkan oleh penebangan dan pembakaran. Jika ini diteruskan dengan kecepatan yang sama sampai tahun 2010 kebanyakan hutan di Sumatra dan Kalimantan akan musnah dan polusi udara akan meningkat secara radikal.

Udara di luar kotor – apakah udara di dalam ruangan lebih bersih?
Kita menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan. Oleh karena itu sangat penting untuk memikirkan tentang kualitas udara yang kita hirup jika sedang tidur, bekerja, belajar, bermain dan bersantai. EPA ( Environmental Protection Agency of America) secara konsisten mengurutkan polusi dalam ruangan sebagai urutan lima (5) besar resiko lingkungan pada kesehatan umum. Kualitas udara dalam rumah 2-5 kali lebih buruk dari pada udara di luar dan terkadang sampai 100 kali. Pergantian udara secara terus-menerus terjadii antara di dalam dan di luar ruangan. Bahkan bahan pencemar di dalam bisa menimbulkan penumpukkan bahan campuran yang jarang ditemukan di luar. Bahan-bahan yang paling berbahaya termasuk sulfurdioksida, karbondioksida, nitrogendioksida dan timah (pada negara berkembang). Bahan campuran ini dikeluarkan oleh tubuh manusia, pencemaran bahan pembangunan, alat-alat. pemakaian produk konsumen, dan pestisida. Keracunan lain yang berhubungan dengan kelembaban, misalnya sistem “air conditioning “dapat menjadi alat pencemar jika tidak dipelihara dengan baik. Kuman dan virus adalah ancaman kesehatan serius yang perlu kita ukur kekuatannya dan harus kita singkirkan sebanyak mungkin. Sejauh mana racun udara ini mempengaruhi kesehatan bervariasi sesuai dengan intensitas dan lamanya kedekatan. Faktor-faktor lain adalah usia, anak kecil, orang usia lanjut, orang yang sudah sakit lebih rentan terhadap pengaruhnya serta orang yang berlatih di tengah-tengah polusi yang paling buruk.

Apakah anda mengetahui bahwa kemungkinan bahan pencemar yang dilepas di dalam ruangan 1000 kali lebih cepat untuk mencapai paru-paru manusia, daripada bahan pencemar yang dilepaskan di luar ruangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s