DISINFEKSI DAN FLUORIDASI

Posted: July 2, 2009 in Other Knowledgement

DISINFEKSI
Disinfeksi terhadap air yang dapat diminum pengolahan khusus untuk penghancuran atau pemisahan organisme yang dapat menimbulkan penyakit. Patogen (organisme penyebab penyakit) terdapat baik pada sumber air tanah maupun pada sumber air permukaan. Penghancuran atau pemisahan organisme tersebut sangat penting untuk menghasilkan persediaan air yang aman untuk diminum. Disinfektan yang banyak dipakai pada pengolahan air adalah bahan pengoksidasi (halogen, campuran halogen, ozon) dan bahan fisik (ultraviolet (UV) dan radiasi). Faktor yang mempengaruhi efisiensi disinfeksi adalah sebagai berikut:
– Tipe dan konsentrasi mikroorganisme yang harus dihancurkan;
– Tipe dan konsentrasi disinfektan;
– Waktu kontak;
– Karakter kimia dan temperatur air yang diolah.

Obyektif Disinfeksi
Obyektif spesifik dari disinfeksi untuk sistem persediaan air public adalah berikut:
– Menjamin 99.9% dan 99.99% Giardia lamblia cysts dan virus tidak aktif;
– Tidak menghasilkan racun dan rasa dan aroma pada air terdisinfeksi;
– Mengurangi pembentukan hasil sampingan disinfeksi yang tidak diinginkan;
– Memenuhi tingkatan kontaminan maksimum (MCLs) untuk disinfektan yang digunakan dan hasil sampingan yang dapat terbentuk.

Disinfeksi yang Dibutuhkan Menurut Peraturan Pengolahan Air Permukaan (SWTR)
Pada peraturan ini, parameter nilai CT dikembangkan untuk menghitung efisiensi disinfeksi dan untuk menyediakan langkah untuk mengukur penonaktifan Giardia lamblia dan virus. Nilai CT adalah hasil dari konsentrasi residu disinfektan, C, dalam mg/L, ditentukan pada akhir proses, dengan waktu kontak disinfektan, T, dalam menit. Waktu kontak disinfektan didasarkan pada waktu air dengan 10% konsentrasi penjejak yang mendekati (T10) butuhkan untuk muncul pada sampling point pada debit puncak harian.
Penentuan T10. Penentuan T10 didasarkan pada dua metode: (1) dye tracer, dan (2) metode teoritis. Metode dye tracer menggunakan aplikasi dari dye tracer yang sesuai untuk mensimulasi kondisi aliran aktual. Metode ini dibagi ke dalam dua metode yaitu: (1) metode step-dose testing, dan (2) metode slug-dose testing. Metode teoritis melibatkan penggunaan aturan jempol untuk mendapatkan nilai T10. Metode ini menghasilkan nilai T10 yang mendekati.
Rasio Penonaktifan. Untuk menentukan persen total penonaktifan, nilai CT harus dihitung pada tiap titik dimana nilai C diukur. Setiap nilai CT yang dihitung dibagi dengan nilai tabular dari CT untuk penonaktifan yang diinginkan pada tabel SWTR. Nilai tabular tersebut adalah untuk disinfektan yang berbeda pada kondisi pH tertentu,temperatur, dan konsentrasi residu disinfektan. Jumlah rasio penonaktifan untuk semua unit pengolahan kepada pelanggan pertama harus sama atau lebih besar dari 1.0

Insiden Cryptosporidium di Milwaukee
Insiden di Milwaukee menghasilkan evaluasi ulang terhadap standar relatif kepada acuan pada disinfeksi. Pendekatan yang digunakan adalah:
– Melindungi badan air dari kontaminasi
– Optimasi tingkatan turbiditas pada air produksi dengan pemeliharaan debit aliran yang stabil melalui saringan.
– Memastikan sistem pengolahan pencucian filter dan daur ulang aliran sampingan tidak mengandung populasi pathogen seperti Cryptosporidium.
– Monitor sistem distribusi agar kualitas air tidak menurun melalui stagnasi tanpa residu klorin.

Hasil Sampingan Disinfeksi
Hasil sampingan terjadi pada proses oksidasi dan akibat klorin bebas. Oleh karena itu, dibentuk peraturan baru, yaitu peraturan disinfektan dan hasil sampingan disinfeksi (D/DBPR). Peraturan ini menggunakan dua pendekatan untuk membatasi jumlah DBPs dan residu disinfektan pada air minum. Pertama, peraturan ini mengharuskan pemisahan materi organic normal (NOM) yang terukur dala bentuk TOC. Kedua, peraturan ini menghasilkan (1) tingkatan kontaminan maksimum (MCLs) dan target tingkatan kontaminan maksimum (MCLGs) untuk DBPs, dan (2) tingkatan residu disinfektan maksimum (MRDLs) dan target tingkatan residu disinfektan maksimum (MRDGLs) untuk disinfektan pada air minum.

Teknologi Primer Disinfeksi
-) Klorinasi
Klorin adalah zat kimia yang paling dominan digunakan pada disinfeksi persediaan air minum. Klorin digunakan sebagai disinfektan primer pada pengolahan air minum. Penggunaan lain termasuk kontrol rasa dan aroma, kontrol alga, pengkondisian media filter, penghilangan besi dan mangan, penghilangan hydrogen sulfide, dan penghilangan warna.
-) Kloraminasi
Penambahan amonia untuk menghasilkan kombinasi residu klorin dilakukan untuk mengontrol pembentukan rasa dan campuran aroma, pertumbuhan alga, bakteri pada dinding dan bendungan unit pengolahan dan saringan. Kloramin yang dihasilkan mampu memelihara residu disinfektan lebih lama dari klorin bebas pada sistem distribusi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s