SEJARAH PULAU MIANGAS (PART 3)

Posted: September 6, 2009 in PROMOTE MIANGAS-K2N
Tags: ,

Keinginan untuk menjadi kepulauan Talaud sebagai sebuah kabupaten ternyata tidak hanya ada di benak para pemuda-pemudi namun seluruh masyarakat Talaud. Akhirnya sekitar tahun 1967 dibentuklah Persatuan Masyarakat Indonesia Talaud.  Sama halnya dengan organisasi Front Persatuan Pemuda Talaud maka Persatuan Masyarakat Indonesia Talaud juga mengirimkan perwakilannya untuk bertemu dengan anggota DPRD I dan gubernur Sulawesi Utara. Beruntunglah perjuangan masyarakat Talaud kali ini tidak sia-sia, di tahun 1993, perwakilan masyarakat Talaud berhasil mendapat sinyal positip tentang rencana pembentukan kabupaten Talaud. Adapun sinyal positip itu didapatkan berdasarkan pertemuan dengan ketua DPRD tingkat I dan Gubernur Sulawesi Utara yaitu E.E. Mangindaan. Keputusan DPRD I untuk mengijinkan perjuangan pembentukan kabupaten Talaud termuat di dalam Surat Keputusan No : 19 Tahun 1999 tanggal 20 Agustus 1999. Berdasarkan pertemuan itu, perwakilan masyarakat Talaud berhasil melanjutkan perjuangan permohonan pembentukan kabupaten Talaud ke gedung DPR di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan masyarakat talaud telah memberikan proposal permohonan pembentukan kabupaten Talaud kepada komisi II DPR. Berkat perjuangan yang gigih maka proposal tersebut pun berhasil menarik perhatian para anggota komisi II DPR. Alhasil anggota komisi II DPR pun tertarik untuk meninjau langsung keberadaan pulau Talaud. Hari kian berganti, perjuangan masyarakat Talaud tiada jua menemui kemajuan. Beruntunglah pada tanggal 5 Maret 2001, A.J. Sondakh selaku gubernur Sulawesi utara saat itu, memberikan kabar baik bagi kemajuan perjuangan pembentukan kabupataen Talaud. Kabar baiknya adalah Gubernur A.J. Sondakh memberikan rekomendasi kepada DPD I Sulawesi Utara untuk menghadap pemerintah pusat di Jakarta guna membahas permohonan pembentukan kabupaten Talaud. Akhirnya pada tanggal 30 Mei 2001, Presiden Abdurahman Wahid menerima kedatangan DPD I Sukawesi Utara guna membahas permohonan pembentukan kabupaten Talaud. Keberhasilan DPD I Sulawesi Utara untuk meyakinkan Preseiden agar mendukung pembentukan kabupaten Talaud, ternyata menyebabkan perjuangan masyarakat Talaud kian mendekati tujuan utama yakni pembentukan kabupaten Talaud. Hal ini ditandai dengan adanya audiensi DPD I Sulawesi Utara dengan Meteri Dalam Negeri. Audiensi yang dilakukan oleh DPD I Sulawesi Utara ternyata membuahkan hasil manis yakni pada tanggal 11 Maret 2002, DPR  menyetujui pembentukan kabupaten Talaud. Bupati pertama dari kabupaten kepulauan Talaud adalah F. Tumimbang.  Adapun perihal pembentukan kabupaten kepulauan Talaud diatur oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud di Sulawesi Utara. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2002 maka dapat diketahui alasan-alasan disetujuinya permohonan pembentukan kabupaten Talaud oleh anggota DPR adalah :
a. Demi perkembangan dan kemajuan Provinsi Sulawesi Utara pada umumnya, dan Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada khususnya, serta adanya aspirasi yang berkembang dalam masyarakat, dipandang perlu meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan guna menjamin kesejahteraan masyarakat.
b. Kepulauan Talaud memiliki kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, jumlah penduduk dan luas daerah yang sangat mendukung untuk dilakukannya pemekaran wilayah
c. pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud akan dapat mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah.
Setelah terbentuknya Kabupaten Kepulauan Talaud, perkembangan kehidupan masyarakat di pulau Miangas memang belum secepat yang diharapkan. Salah satu hal utama yang menyebabkan lambatnya perkembangan pulau Miangas adalah keterisolasian pulau tersebut dari pusat pemerintahan dan peredaran komoditas untuk keperluan masyarakat Miangas. Keadaan ekonomi masyarakat di Miangas bertumpu pada hasil laut dan kelapa. Saat ini, dengan masuknya nelayan-nelayan asing maka banyak nelayan lokal kekurangan penghasilan dan penangkapan ikan. Jika mau dibandingkan, Filipina telah mengembangkan sekitar 100 jenis pemanfaatan pohon kelapa dan telah mendapat lisensinya, sedangkan di Indonesia khususnya Sulawesi Utara termasuk Kepulauan Sangihe dan Talaud belum mendayagunakan potensi kelapa sepenuhnya. Keberadaan di Miangas dalam kehidupan sosial sangat memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan hanya ada 1 (satu) Sekolah Dasar dan 1 (satu) Sekolah Menengah Pertama. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 120 kepala keluarga, sebagian besar 95% memeluk agama Nasrani dan lainnya 5% memeluk agama Islam. Budaya di Miangas sama halnya dengan budaya Talaud dengan rumpun bahasa yang sama, walaupun terbagi dalam sub-etnis bahasa berbeda. Banyak para generasi muda yang sudah lulus Sekolah Menengah Pertama meninggalkan kampung halaman dan memilih bekerja di Mindanau ataupun melanjutkan studi di Tahuna dan di Manado. Hal ini menjadi kebiasaan turun-temurun. Di samping itu, kehidupan yang penuh tantangan alam menjadikan masyarakat Miangas sebagai pekerja keras dengan totalitas kerja yang lebih dibandingkan dengan pekerja lainnya. Masalah yang terbentang adalah kemampuan berupa ketrampilan profesional belum dapat menunjang penampilan fisik yang prima dari masyarakat Miangas. Pulau Miangas sebagai pulau terdepan perbatasan Indonesia dengan Filipina sudah selayaknya mendapatkan perhatian dari pemerintah Indonesia karena Pulau Miangas dapat menjadi etalase terdepan negara Indonesia di mata internasional.

Sumber: Papaer Kelompok Gatot Subroto – K2NUI09
Referensi:
Indonesia, Undang-Undang tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Tlaud di Sulawesi Utara, UU No. 8 Tahun 2002, LN. 21 Tahun 2002, TLN. 4183
Sejarah Singkat Bumi Porodisa : Kabupaten Kepulauan Talaud, (http://porodisa-center.org/profiles.php), tanggal akses : 8 Juni 2009.

Comments
  1. Johannes Verhelst says:

    Mohon informasi tentang kehidupan nelayan Pulau Miangas. Terima kasih.

    • jefrihutagalung says:

      setahu saya, kehidupan nelayan penduduk miangas masih tradisional karena mereka masih menjaga kondisi alam sekitar. Sama seperti daerah terluar lainnya, terkadang mereka agak kesulitan mendapatkan BBM untuk melaut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s