DAMPAK PSIKOLOGIS MEROKOK

Posted: November 20, 2009 in SAY NO TO DRUGS
Tags: ,

Dampak psikologis dari merokok adalah timbulnya pengaruh terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku perokok. Dampak psikologis tersebut adalah:
1. Adiksi (ketagihan)
Nikotin dalam asap rokok merupakan bahan yang menimbulkan efek ketagihan (adiktif), sebagaimana kelompok zat adiktif lainnya seperti heroin, morfin, ganja, amfetamin, alkohol, dan psikotropoka lainnya.
2. Toleransi dan Dependensi
Efek ketagihan akan berkembang secara fisiologis menjadi efek toleransi (penambahan dosis). Orang yang sudah bertahun-tahun menjadi perokok, kadar toleransi nikotin dalam tubuhnya telah cukup tinggi
Pada akhirnya secara psikologis merokok akan menimbulkan efek dependensi (ketergantungan) yang menyebabkan perokok mengalami reaksi putus zat apabila dihentikan secara mendadak. Beberapa tanda dan gejala dari reaksi putus zat adalah : badan lemah, sakit kepala, gangguan pencernaan, kurang konsentrasi, lesu, sulit berpikir, batuk-batuk, dan lain-lain. Keluhan ini bersifat sementara – lama/tidaknya keluhan tersebut tergantung dari lama dan beratnya seorang merokok.
Jika gejala putus zat niokotin (sakau) ini dapat dilewati dengan tekad yang kuat, maka seorang perokok akan dapat berhenti merokok. Oleh karena itu kesabaran dan kemauan yang keras diperlukan untuk keberhasilan berhenti merokok. Kondisi kemauan dan niat yang kuat, dapat dilihat saat perokok melaksanakan ibadah puasa.
Demikian hebatnya efek ketagihan dan ketergantungan pada rokok, sehingga dapat menjadi penghubung menuju ketergantungan terhadap zat adiktif lainnya yang lebih berbahaya seperti heroin, morfin, alkohol, dan psikotropika lainnya. ROKOK adalah PINTU GERBANG ketagihan terhadap zat adiktif lainnya.
3. Gaya Hidup Perokok
Kondisi umum perokok di Indonesia saat ini adalah mulai merokok pada usia muda (15-19 tahun), sebagai gaya hidup supaya tampak trendi, cool, macho, gaul, dan lain-lain. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi psikologis dengan mengabaikan dampak negatifnya terhadap kesehatan. Kondisi ini diperburuk lagi dengan pembentukan opini yang menyesatkan melalui iklan-iklan rokok dan sponsorship dlam kegiatan remaja.
Sedangkan untuk orang dewasa atau mereka yang berusia di atas 19 tahun, merokok tampaknya telah menjadi kebiasaan yang membudaya. Bahkan sudah dianggap sebagai suatu kebutuhan, baik dalam waktu istirahat maupun dalam hubungan sosial bermasyarakat.

Advertisements
Comments
  1. Ryseventh says:

    beberapa perokok mengaku dengan merokok dapat meningkatkan percaya diri. mereka membutuhkan ini untuk perkembangan psikologis mereka. bagaimana tanggapan agan?

    • jefrihutagalung says:

      kalau menurut saya, tetap saja rokok sangat berbahaya apapun kondisinya.. mungkin sama seperti narkoba, dapat membuat meningkatkan percaya diri.. namun lebih banyak kerugian yang didapatkan apabila merokok.. sudah jelas diinfokan mengenai dampak negatif rokok pada bungkus rokok, untuk apa masih merokok?! Tanya kenapa?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s