Posts Tagged ‘Biaya ke Waerebo’

Desa Waerebo, sebuah desa nan eksotis yang sedang melejit namanya menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Nusa Tenggara Timur, mendapatkan anugerah tertingginya pada ajang UNESCO Asia-Pasific Award for Cultural Heritage Conservation tanggal 27 Agustus 2012 di Bangkok dengan mengalahkan 42 warisan budaya dari 11 negara atas Rumah tradisional, Mbaru Niang (Vivanews.com). Berbagai media, belakangan ini pun semakin banyak meliput desa yang telah berumur sekitar 1080 tahun ini. Apa yang membuat Desa Waerebo menjadi destinasi baru nan memukau?

Kesempatan meninggalkan jejak langkah dan exsplore lebih jauh mengenai desa yang banyak menjadi sorotan berbagai media ini pun menghampiri diri saya pada bulan Mei 2016.

DSCN9068

Sunrise di Waerebo

Desa Waerebo merupakan desa yang berada di ketinggian 1125 mpdl terletak di kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan populasi sekitar 42 kk, penduduk waerebo menempati 7 rumah tradisional dengan komposisi 1 rumah utama (rumah gendang) yang ditempati 8 kk dan 6 rumah pendukung yang ditempati 6 kk. Hingga saat ini, penduduk desa Waerebo merupakan keturunan ke-18, bila diambil rata-rata umur 1 generasi keturunan adalah 60 tahun, maka leluhur penduduk waerebo pertama kali menjejakkan kakinya sekitar 1080 tahun lalu.

Perjalanan Menuju Waerebo!

Desa Waerebo dapat ditempuh dengan 2 cara (waerebo.com), yaitu:

  • Jalur darat (Oto Kayu)

Jalur darat ditempuh dengan menggunakan moda transportasi berupa truck (oto kayu) dari Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, tepatnya terminal bus Mena dengan rute Desa Cancar (terkenal dengan Spider Rice Field), Pela, Todo, Dintor dan Denge. Dari terminal bus Mena, oto kayu biasa berangkat saat siang hari dengan waktu tempuh sekitar 3-3.5 jam dan dari denge ke ruteng, oto kayu berangkat pukul 04.00-05.30.

  • Jalur perairan (Perahu)

Bila anda ingin menggunakan perahu, anda dapat memulai perjalanan dari Labuan Bajo menuju Nangalili. Sampai disana, anda dapat menyewa perahu kembali (budget sekitar Rp 400.000) untuk menuju Dintor dengan waktu tempuh 2.5 jam melintasi Pulau Mules. Silahkan kontak Bp. Irwan (081236689171) untuk pencarian sewa perahu dan info lebih lanjut. Dari Dintor, dapat melanjutkan perjalanan ke Denge dengan menggunakan Ojek (budget sekitar 10-20 ribu) dengan waktu tempuh 20 menit.

My Journey…

Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai menjadi awal dimulainya perjalanan saya menuju Desa Waerebo. Kendaraan yang ditumpangi berupa Elf dengan total 11 seat pun melaju dari Hotel Rima, tempat menginap semalam di Ruteng. Perjalanan dari Ruteng menuju Desa Denge, desa terdekat dengan Waerebo, memakan waktu sekitar 3-4 jam melintasi Golo Lusang, Desa Pong Nggeok, melewati jembatan Wae Mese, menuju Desa Narang, lalu Desa Nanga Ramut, dan berakhir di Dintor sebelum pemberhentian terakhir di Desa Denge. Seiring perjalanan, pemandangan berganti perlahan mulai dari ikon gereja katedral di ruteng, wajah ibukota Ruteng, hamparan sawah luas membentang, hingga pinggir pantai berbatu dengan background Pulau Mules. Deru mesin kendaraan pun terdengar menghilang diiringi dengan berhentinya kendaraan yang ditumpangi didepan sebuah rumah dengan halaman luas dimana sudah terdapat beberapa mobil dalam posisi parkir seadanya didepan rumah tersebut. Terlihat sebuah spanduk bertuliskan Denge Homestay Waerebo (Wejang Asih) terpampang pada bagian atas rumah tersebut.

DSCN8972

Pelataran Homestay Wejang Asih

Homestay Wejang Asih, merupakan tempat persinggahan yang dikelola oleh Bp. Blasius (081339350775) dan juga menjadi pusat informasi sebelum menuju ke Waerebo. Banyaknya wisatawan yang akan berkunjung ke Waerebo, membuat tempat persinggahan ini begitu ramai. Bp. Blasius dengan senyum ramahnya menyapa dan memberi salam kepada setiap wisatawan yang datang. Terlihat dengan cukup sigap, Bp Blasius yang merupakan putera asli Waerebo, menerima wisatawan dan berbincang serta menjawab beberapa pertanyaan yang melayang ke dirinya mengenai Waerebo.

20160503_134912

Daftar Biaya Berkunjung di Desa Waerebo

Setiap wisatawan yang berkunjung ke Desa Waerebo, dikenakan biaya yang terbilang tidak sedikit yaitu Rp 325.000/org/malam dengan 2x makan untuk wisatawan yang menginap dan Rp 200.000/org dengan 1x makan. Sedangkan saat ada acara adat/acara khusus, biaya yang dikeluarkan lebih besar yaitu Rp 450.000/org/malam saat acara adat Penti dan Rp 250.000/pentas saat acara Mbata.

DSCN8973

Jalur Pendakian Denge – Wae Lomba – Poco Roko – Rumah Kasih Ibu – Desa Waerebo

Setelah rehat sejenak, mengisi perut yang keroncongan, dan menyiapkan barang serta air minum selama tracking, rombongan yang akan beranjak menuju Desa Waerebo pun berkumpul di dekat SDK Denge. Waktu menunjukkan pukul 14.00, dan perjalananan sepanjang kurang lebih 9 km menuju Desa Waerebo pun dimulai. Sepanjang 3 km sampai dekat pos 1 di Wae Lomba, jalan beraspal dengan lebar 4m, membuat tracking lebih nyaman walaupun jalur yang dilalui tetap mendaki dan berkelok. Bagi anda yang ingin menyimpan tenaga di awal tracking, anda dapat menggunakan ojek motor dengan biaya sebesar Rp 10.000.

Pendakian menembus kawasan perbukitan hutan dengan jalan setapak, lebar hanya sekitar 1-2 m, mengikuti lereng bukit pun dimulai dari Wae Lomba menuju Poco Roko, yang merupakan pos 2 menuju Desa Waerebo. Mendekati Poco Roko, kabut mulai terlihat, nafas pun mulai terasa berat karena kadar oksigen yang mulai menurun ditambah dengan asam laktat yang meningkat akibat otot tubuh yang berkontraksi dalam waktu panjang selama tracking, membuat beberapa kali rombongan beristirahat sejenak.

DSCN9025

Pos 2 Poco Roko

Poco Roko pun mulai terlihat. Pos ini ditandai dengan adanya pagar pengaman di sisi tebing. Di Poco Roko, terkadang, anda dapat menemukan sinyal telepon seluler. Sinyal telepon seluler dari Homestay Wejang Asih hingga Waerebo merupakan suatu hal yang sangat langka. Bahkan di Waerebo, tidak ada sinyal provider apapun. Bp Blasius sendiri harus menempatkan telepon genggamnya pada sebuah pohon tinggi didekat homestay tersebut untuk melakukan kontak via sms dengan setiap wisatawan yang akan berkunjung ke Waerebo.

DSCN9043

Pos 3 Rumah Kasih Ibu

Jalur tracking pun semakin sulit dengan medan yang semakin menanjak menuju pos 3. Yah, dari pertengahan jalan menuju pos 2 hingga tracking pertengahan jalan menuju pos 3 merupakan jalur yang paling berat selama tracking menuju Desa Waerebo. Jembatan gantung dengan konstruksi cukup rawan pun harus dilalui dengan hati-hati. Namun setelah itu, tumbuhan kopi di kiri-kanan sepanjang jalur tracking yang ditanam oleh masyarakat adat Waerebo mulai menandai jarak yang semakin dekat dengan Desa Waerebo. Rumah Kasih Ibu mulai terlihat. Pos ini merupakan pos terakhir sebelum memasuki Desa Waerebo. Bangunan ini berupa saung tipe panggung dengan dua atap berbentuk kerucut penutup atap berdaun lontar. Dari pos ini, 7 rumah adat Waerebo, Mbaru Niang, dapat terlihat. Namun karena kabut tebal, desa Waerebo tidak terlihat. Waktu menunjukkan pukul 17.50, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lereng menuju Desa Waerebo.

DSCN9141

Desa Waerebo Dari Pos 3 Rumah Kasih Ibu di Pagi Hari

Estimasi Budget

  • Travel Labuan Bajo – Ruteng : Rp 70.000 (4-5 jam)
  • Oto Kayu rute Ruteng – Dintor/Denge : Rp 30.000
  • Ojek rute Ruteng – Dintor/Denge : Rp 150.000 – Rp 200.000
  • Makan di Homestay Wejang Asih : Rp 35.000 / org/1x makan
  • Ojek menuju Pos 1 Wae Lomba : Rp 10.000
  • Berkunjung ke Waerebo (Menginap) : Rp 325.000 / org / malam (2x makan)
  • Berkunjung ke Waerebo (Tidak Menginap) : Rp 200.000 / org (1x makan)
  • Porter ke Waerebo : Rp 200.000 (pp)
  • Acara khusus (Penti) : Rp 450.000 / org / malam
  • Acara khusus (Mbata) : Rp 250.000 / pentas