Posts Tagged ‘Destinasi Wisata Nusa Tenggara Timur’

Desa Waerebo dapat terlihat pertama kali dari pos 3 Rumah Kasih Ibu, yang merupakan pos terakhir. Jejeran 7 buah rumah Mbaru Niang yang membentuk seperti tiga perempat tali busur lingkaran. Sekitar pukul 17.35, langkah kaki pun berhasil menapaki rumah bertipe panggung dengan atap berbentuk dua kerucut dan beratap daun lontar ini. Salah satu kawan pun memukul sebuah kentungan yang menjadi salah satu tradisi sebelum memasuki Waerebo. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat adat dapat mengetahui kedatangan tamu dan dapat mempersiapkan penyambutan tamu tersebut. Sebagai informasi, wisatawan yang berkunjung dilarang mengabadikan desa Waerebo dalam bentuk gambar apapun sebelum dilakukan proses penyambutan tamu oleh masyarakat adat Waerebo.

DSCN9141

Desa Waerebo di Pagi Hari dari Pos Rumah Kasih Ibu

Langkah Kaki di Waerebo

Perjalanan kurang dari 15 menit, menuruni lereng bukit, desa Waerebo pun berhasil dicapai. Kegelapan malam pun mulai meliputi sekitar karena waktu pun telah menunjukkan pukul 18.00. Langkah pun terhenti di salah satu Mbaru Niang yang terletak di tengah-tengah dari 7 Mbaru Niang. Rumah tersebut disebut Mbaru Gendang dan merupakan rumah terbesar dan menjadi rumah ketua adat dimana biasanya digunakan untuk menyambut tamu. Rumah adat Waerebo dibagi menjadi 2 yaitu Rumah utama (Rumah Gendang) dan 6 buah rumah Mbaru Gena (Rumah pendamping) dengan nama Mbaru Gena Mandok, Jintam, Ndorom, Jekong, dan Maro dimana Maro merupakan rumah yang dikhususkan sebagai guesthouse.

20160503_184736

Proses Penyambutan Tamu Desa Waerebo

Banyaknya wisatawan yang berkunjung pada hari kedatangan kami, membuat rombongan harus menunggu giliran. Keunikan tersendiri yang masih dipertahankan, tetua adat akan melakukan penyambutan per grup atau rombongan yang datang, tidak melihat jumlah dari grup tersebut. Memasuki area rumah utama, terlihat para ibu-ibu sedang memasak di tengah rumah utama dan sang tetua adat duduk di tengah rumah menghadap pintu masuk. Proses acara penyambutan pun dimulai dimana sang tetua adat berbicara dalam bahasa manggarai. Setelah itu, seorang masyarakat waerebo lainnya yang duduk disamping tetua adat pun mengutarakan inti dari pembicaraan dalam proses acara penyambutan tersebut dimana rombongan telah diterima oleh penduduk Waerebo.

niang-gendang

Rumah Gendang ( Source : bloodydirtyboots.wordpress.com )

Proses penyambutan pun selesai, pengambilan gambar desa Waerebo pun telah diijinkan. Sambil menunggu rumah yang akan dijadikan tempat menginap, beberapa pertanyaan pun dilayangkan kepada tetua adat, diiringi dengan pengambilan beberapa gambar di dalam rumah Mbaru Gendang ini. Mungkin rumah adat ini dikatakan rumah Gendang karena di dalam rumah ini, disimpan gendang yang digantung ditengah rumah dimana gendang tersebut biasa digunakan pada acara-acara adat.

20160503_185228

Gendang di Rumah Utama

Rombongan pun sangat beruntung karena ditempatkan pada rumah gena yang ada walaupun rombongan harus dipisah dalam dua rumah berbeda. Pembicaraan empat mata yang berhasil dilakukan setelah sebelumnya sempat diberitahukan bahwa rombongan yang berjumlah 22 orang akan ditempatkan di rumah baca karena jumlah rombongan yang banyak tidak dapat ditampung dalam satu rumah dan banyaknya wisatawan pada hari yang sama berkunjung di Waerebo.

DSCN9102

Salah Satu Mbaru Gena

Memasuki salah satu Mbaru Gena, tampak lantai papan kayu yang telah dilapisi tikar sebagai alas melingkar sisi kiri dan kanan bangunan. Sambil menunggu para mama yang sedang menyiapkan hidangan makan malam, segelas kopi arabica hangat pun dihidangkan. Saya sendiri bukanlah pecinta kopi, sehingga tidak bisa membedakan jenis kopi Arabica dari Waerebo dengan kopi dari daerah Indonesia lainnya. Kopi sendiri merupakan tanaman yang ditanam pada kebun-kebun masyarakat Waerebo. Kebun tersebut pun dikelola secara organic. Jenis kopi yang dihasilkan pun ada 4 macam yaitu kopi Arabica, kopi Robusta, kopi Columbia, dan kopi Luwak. Masyarakat Waerebo pun menjual hasil buminya kepada wisatawan yang datang. Untuk kopi Arabica organik dan kopi Robusta organik dijual seharga Rp 60.000. Untuk jenis kopi Columbia organik dijual seharga Rp 80.000 dan jenis kopi luwak organik dijual seharga Rp 200.000. Setiap kemasan telah dibuat modern dengan bungkus yang menarik dengan takaran per bungkus seberat 250 g.

Segelas kopi Arabica hangat berhasil menghangatkan tubuh dari dinginnya malam di Waerebo. Perbincangan dengan guide lokal dan seorang nenek penduduk Waerebo di Mbaru Gena yang ditempati pun mengisi waktu luang sambil menunggu makan malam. Selang beberapa waktu yang cukup lama, panggilan untuk makan malam pun tiba. Derap langkah kaki seribu sesegera mungkin menuju Mbaru Gena lain yang terletak disebelah tempat kami menginap, seraya perut yang sudah keroncongan meminta asupan makanan.

Kenikmatan Malam di Waerebo

DSC02614

Para Mama Penduduk Waerebo Memasak Untuk Makan Malam di Tengah Rumah (Foto oleh : Ibrahim Sihotang ) 

Ayam goreng dengan sayur labu ditambah dengan sambal ulak bertekstur kasar yang super pedas menjadi menu makan malam. Keunikan dari pembuatan menu makan malam ini adalah para mama penduduk Waerebo, memasak makanan di tengah rumah dengan menggunakan kayu bakar. Walaupun proses memasak makanan sedikit lebih lama, hal ini membuat masakan yang dibuat berbeda rasanya, sungguh kenikmatan rasa tersendiri. Mbaru Niang sendiri merupakan rumah yang harus selalu diasapi dari kegiatan memasak para mama atau pun pengasapan yang disengaja dari bawah rumah untuk menjaga rumah tersebut dari serangan rayap sehingga Mbaru Niang tersebut memiliki umur bangunan yang lebih lama.

Selepas mengisi isi perut, menikmati keindahan malam di Waerebo adalah ide terbaik untuk dilakukan. Malam yang begitu mempesona. Sayang sekali, jenis kamera yang dibawa tidak dapat mengabadikan salah satu momen terbaik di Waerebo. Keindahan langit malam di Waerebo dimana sangat jelas terlihat taburan bintang menghiasi angkasa. Sesuatu hal yang sangat lumrah bahwasanya mayoritas daerah timur Indonesia memang sungguh mempesona di malam hari karena belum banyaknya polusi yang ada dan masih asrinya lingkungan sekitar. Dinginnya udara malam, akhirnya, membuat langkah kaki pun mengarah kembali ke Mbaru Gena tempat menginap. Tubuh pun segera rebah di lantai kayu yang beralaskan tikar pada salah satu sudut dekat pintu masuk.

Perhatian Khusus di Waerebo

Alarm pun berbunyi sekitar pukul 05.00. Terlihat beberapa kawan pun melakukan ibadah shalat subuh di Mbaru Gena tempat menginap. Saya sendiri segera lari ke kamar mandi umum yang berada di dekat Mbaru Gena khusus guesthouse. Oh ya, bila anda berpikir bahwa akan kesulitan mengenai mck di Waerebo, sungguhlah pikiran tersebut salah besar. Karena terdapat 2 titik mck umum yang terdiri masing-masing 3 sekat ruang yang terletak di dekat Mbaru Gendang (rumah utama) dan di dekat Mbaru Gena khusus guesthouse. Mck pun terlihat cukup modern dengan adanya 1 unit kloset duduk, 1 unit kloset jongkok, dan 1 ruang sekat khusus untuk mandi dengan air yang telah dipompa dengan mesin menggunakan pipa hdpe menuju kamar mandi dari sumber air. Septic tank pun tersedia dan berada di belakang dari kamar mandi tersebut. Walaupun telah lebih modern, bangunan yang dibuat pun tetap mengindahkan bentuk bangunan adat Waerebo yang menjadi ciri khasnya dengan model atap kerucut dan beratap daun lontar.

DSCN9134

Salah Satu Bagian Pengkonversi Arus DC-AC Dari Solar Cell di Waerebo

Elektrifikasi di Waerebo pun telah menggunakan genset yang dioperasikan khusus malam hari. Selain itu, disetiap Mbaru Niang, terdapat solar cell dengan kapasitas kecil yang dikhususkan untuk beberapa lampu di dalam rumah. Pemerintah terlihat cukup serius menggarap Waerebo menjadi salah satu destinasi favorit Indonesia secara umum dan Provinsi Nusa Tenggara Timur secara khususnya. Pembuatan jalan aspal sepanjang 3km sampai dekat pos 1 di Wae Lomba, fasilitas MCK dan air bersih, elektrifikasi, dan puskesmas serta rumah baca yang tersedia adalah bukti-bukti otentik yang dapat dirasakan.

Sang Surya di Waerebo

Tempat terbaik untuk melihat naiknya sang surya di Waerebo adalah dari rumah baca. Dari sana, perlahan sang surya akan mencapai keposisinya perlahan dari balik hijaunya perbukitan yang mengelilingi Waerebo. Bias sinarnya menjadi warna kuning keorangean begitu memukau, menyinari ketujuh Mbaru Niang. Dari rumah baca pun terlihat sebagian dari Mbaru Niang mengeluarkan asap, pertanda adanya aktivitas memasak di dapur setiap rumah. Kejadian ini tidak disia-siakan oleh para wisatawan yang berkunjung, termasuk saya. Beberapa foto pun diambil sebagai buah kenang-kenangan berkunjung di desa eksotis ini.

20160504_065233

Keindahan Pagi Hari di Waerebo

Konstruksi Mbaru Niang

Selayaknya pribadi yang penasaran dengan keunikan Mbaru Niang, saya pun melakukan sedikit penelusuran mengenai struktur bangunan dan konstruksi dari rumah adat yang berbentuk kerucut ini.

mbaru-niang

Struktur Mbaru Niang (bloodydirtyboots.wordpress.com)

Mbaru Niang berasal dari bahasa setempat yang berarti rumah tinggi ( Mbaru = rumah ; Niang = tinggi ). Setiap Mbaru Niang memiliki 5 tingkat yang memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu :

  1. Lutur / Tenda, digunakan sebagai tempat tinggal (bagian dalam dimana disekat dengan papan menjadi 6 ruang untuk Mbaru Gena dan 8 ruang untuk Mbaru Gendang), berkumpulnya keluarga dan penyambutan tamu (pada bagian depan), dan memasak (pada bagian tengah ruangan). Diameter bangunan tingkat pertama ini adalah 11 meter dimana terlihat 9 tiang utama dari kayu worok dengan formasi 3 x 3 yang menandakan bahwa 9 bulan manusia baru dilahirkan dan terdapat 1 tiang utama setinggi 15 meter yang berada di tengah dan menjadi poros bangunan
  2. Lobo, digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari
  3. Lentar, digunakan untuk menyimpan benih tanaman pangan seperti padi, jagung
  4. Lempa Rae, digunakan untuk menyimpan cadangan bahan makanan dikala gagal panen
  5. Hekang Kode, dgunakan untuk upacara adat dengan menaruh sesaji kepada leluhur

Bila ditelisik dari tinjauan langsung terhadap Mbaru Niang, terlihat pondasi rumah tradisional ini adalah kayu yang ditanam (berdasarkan informasi didapat, pondasi kayu ditanam sekitar 2 meter) dan dilapis dengan plastik dan ijuk agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah sehingga umur dari pondasi bisa lebih tahan lama. Tiang utama berupa kayu worok dengan panjang 15 meter yang dipasang ditengah bangunan, dibantu 8 tiang disekelilingnya pada lantai pertama. Untuk atapnya sendiri berupa kumpulan bambu diameter 80mm berjumlah 116 batang dengan panjang beragam pada sisi vertikal dan diikat dengan kumpulan rotan  membentuk lingkaran mengelilingi bangunan. Penutup atapnya sendiri berupa daun lontar yang dilapis dengan ijuk. Uniknya dari Mbaru Nianga adalah sambungan bangunan pun tidak menggunakan paku, melainkan dengan sistem coak, pasak/pen dan diikat menggunakan tali rotan.

Berikut merupakan video menarik yang dibuat oleh akun @Vidour dari Youtube mengenai proses pembangunan ulang Mbaru Niang yang diprakarsai oleh Rumah Asuh.

Source : @Vidour (youtube)

 

IMG-20160504-WA0014

Flores Mei 2016

Desa Waerebo, sebuah desa nan eksotis yang sedang melejit namanya menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Nusa Tenggara Timur, mendapatkan anugerah tertingginya pada ajang UNESCO Asia-Pasific Award for Cultural Heritage Conservation tanggal 27 Agustus 2012 di Bangkok dengan mengalahkan 42 warisan budaya dari 11 negara atas Rumah tradisional, Mbaru Niang (Vivanews.com). Berbagai media, belakangan ini pun semakin banyak meliput desa yang telah berumur sekitar 1080 tahun ini. Apa yang membuat Desa Waerebo menjadi destinasi baru nan memukau?

Kesempatan meninggalkan jejak langkah dan exsplore lebih jauh mengenai desa yang banyak menjadi sorotan berbagai media ini pun menghampiri diri saya pada bulan Mei 2016.

DSCN9068

Sunrise di Waerebo

Desa Waerebo merupakan desa yang berada di ketinggian 1125 mpdl terletak di kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan populasi sekitar 42 kk, penduduk waerebo menempati 7 rumah tradisional dengan komposisi 1 rumah utama (rumah gendang) yang ditempati 8 kk dan 6 rumah pendukung yang ditempati 6 kk. Hingga saat ini, penduduk desa Waerebo merupakan keturunan ke-18, bila diambil rata-rata umur 1 generasi keturunan adalah 60 tahun, maka leluhur penduduk waerebo pertama kali menjejakkan kakinya sekitar 1080 tahun lalu.

Perjalanan Menuju Waerebo!

Desa Waerebo dapat ditempuh dengan 2 cara (waerebo.com), yaitu:

  • Jalur darat (Oto Kayu)

Jalur darat ditempuh dengan menggunakan moda transportasi berupa truck (oto kayu) dari Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, tepatnya terminal bus Mena dengan rute Desa Cancar (terkenal dengan Spider Rice Field), Pela, Todo, Dintor dan Denge. Dari terminal bus Mena, oto kayu biasa berangkat saat siang hari dengan waktu tempuh sekitar 3-3.5 jam dan dari denge ke ruteng, oto kayu berangkat pukul 04.00-05.30.

  • Jalur perairan (Perahu)

Bila anda ingin menggunakan perahu, anda dapat memulai perjalanan dari Labuan Bajo menuju Nangalili. Sampai disana, anda dapat menyewa perahu kembali (budget sekitar Rp 400.000) untuk menuju Dintor dengan waktu tempuh 2.5 jam melintasi Pulau Mules. Silahkan kontak Bp. Irwan (081236689171) untuk pencarian sewa perahu dan info lebih lanjut. Dari Dintor, dapat melanjutkan perjalanan ke Denge dengan menggunakan Ojek (budget sekitar 10-20 ribu) dengan waktu tempuh 20 menit.

My Journey…

Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai menjadi awal dimulainya perjalanan saya menuju Desa Waerebo. Kendaraan yang ditumpangi berupa Elf dengan total 11 seat pun melaju dari Hotel Rima, tempat menginap semalam di Ruteng. Perjalanan dari Ruteng menuju Desa Denge, desa terdekat dengan Waerebo, memakan waktu sekitar 3-4 jam melintasi Golo Lusang, Desa Pong Nggeok, melewati jembatan Wae Mese, menuju Desa Narang, lalu Desa Nanga Ramut, dan berakhir di Dintor sebelum pemberhentian terakhir di Desa Denge. Seiring perjalanan, pemandangan berganti perlahan mulai dari ikon gereja katedral di ruteng, wajah ibukota Ruteng, hamparan sawah luas membentang, hingga pinggir pantai berbatu dengan background Pulau Mules. Deru mesin kendaraan pun terdengar menghilang diiringi dengan berhentinya kendaraan yang ditumpangi didepan sebuah rumah dengan halaman luas dimana sudah terdapat beberapa mobil dalam posisi parkir seadanya didepan rumah tersebut. Terlihat sebuah spanduk bertuliskan Denge Homestay Waerebo (Wejang Asih) terpampang pada bagian atas rumah tersebut.

DSCN8972

Pelataran Homestay Wejang Asih

Homestay Wejang Asih, merupakan tempat persinggahan yang dikelola oleh Bp. Blasius (081339350775) dan juga menjadi pusat informasi sebelum menuju ke Waerebo. Banyaknya wisatawan yang akan berkunjung ke Waerebo, membuat tempat persinggahan ini begitu ramai. Bp. Blasius dengan senyum ramahnya menyapa dan memberi salam kepada setiap wisatawan yang datang. Terlihat dengan cukup sigap, Bp Blasius yang merupakan putera asli Waerebo, menerima wisatawan dan berbincang serta menjawab beberapa pertanyaan yang melayang ke dirinya mengenai Waerebo.

20160503_134912

Daftar Biaya Berkunjung di Desa Waerebo

Setiap wisatawan yang berkunjung ke Desa Waerebo, dikenakan biaya yang terbilang tidak sedikit yaitu Rp 325.000/org/malam dengan 2x makan untuk wisatawan yang menginap dan Rp 200.000/org dengan 1x makan. Sedangkan saat ada acara adat/acara khusus, biaya yang dikeluarkan lebih besar yaitu Rp 450.000/org/malam saat acara adat Penti dan Rp 250.000/pentas saat acara Mbata.

DSCN8973

Jalur Pendakian Denge – Wae Lomba – Poco Roko – Rumah Kasih Ibu – Desa Waerebo

Setelah rehat sejenak, mengisi perut yang keroncongan, dan menyiapkan barang serta air minum selama tracking, rombongan yang akan beranjak menuju Desa Waerebo pun berkumpul di dekat SDK Denge. Waktu menunjukkan pukul 14.00, dan perjalananan sepanjang kurang lebih 9 km menuju Desa Waerebo pun dimulai. Sepanjang 3 km sampai dekat pos 1 di Wae Lomba, jalan beraspal dengan lebar 4m, membuat tracking lebih nyaman walaupun jalur yang dilalui tetap mendaki dan berkelok. Bagi anda yang ingin menyimpan tenaga di awal tracking, anda dapat menggunakan ojek motor dengan biaya sebesar Rp 10.000.

Pendakian menembus kawasan perbukitan hutan dengan jalan setapak, lebar hanya sekitar 1-2 m, mengikuti lereng bukit pun dimulai dari Wae Lomba menuju Poco Roko, yang merupakan pos 2 menuju Desa Waerebo. Mendekati Poco Roko, kabut mulai terlihat, nafas pun mulai terasa berat karena kadar oksigen yang mulai menurun ditambah dengan asam laktat yang meningkat akibat otot tubuh yang berkontraksi dalam waktu panjang selama tracking, membuat beberapa kali rombongan beristirahat sejenak.

DSCN9025

Pos 2 Poco Roko

Poco Roko pun mulai terlihat. Pos ini ditandai dengan adanya pagar pengaman di sisi tebing. Di Poco Roko, terkadang, anda dapat menemukan sinyal telepon seluler. Sinyal telepon seluler dari Homestay Wejang Asih hingga Waerebo merupakan suatu hal yang sangat langka. Bahkan di Waerebo, tidak ada sinyal provider apapun. Bp Blasius sendiri harus menempatkan telepon genggamnya pada sebuah pohon tinggi didekat homestay tersebut untuk melakukan kontak via sms dengan setiap wisatawan yang akan berkunjung ke Waerebo.

DSCN9043

Pos 3 Rumah Kasih Ibu

Jalur tracking pun semakin sulit dengan medan yang semakin menanjak menuju pos 3. Yah, dari pertengahan jalan menuju pos 2 hingga tracking pertengahan jalan menuju pos 3 merupakan jalur yang paling berat selama tracking menuju Desa Waerebo. Jembatan gantung dengan konstruksi cukup rawan pun harus dilalui dengan hati-hati. Namun setelah itu, tumbuhan kopi di kiri-kanan sepanjang jalur tracking yang ditanam oleh masyarakat adat Waerebo mulai menandai jarak yang semakin dekat dengan Desa Waerebo. Rumah Kasih Ibu mulai terlihat. Pos ini merupakan pos terakhir sebelum memasuki Desa Waerebo. Bangunan ini berupa saung tipe panggung dengan dua atap berbentuk kerucut penutup atap berdaun lontar. Dari pos ini, 7 rumah adat Waerebo, Mbaru Niang, dapat terlihat. Namun karena kabut tebal, desa Waerebo tidak terlihat. Waktu menunjukkan pukul 17.50, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni lereng menuju Desa Waerebo.

DSCN9141

Desa Waerebo Dari Pos 3 Rumah Kasih Ibu di Pagi Hari

Estimasi Budget

  • Travel Labuan Bajo – Ruteng : Rp 70.000 (4-5 jam)
  • Oto Kayu rute Ruteng – Dintor/Denge : Rp 30.000
  • Ojek rute Ruteng – Dintor/Denge : Rp 150.000 – Rp 200.000
  • Makan di Homestay Wejang Asih : Rp 35.000 / org/1x makan
  • Ojek menuju Pos 1 Wae Lomba : Rp 10.000
  • Berkunjung ke Waerebo (Menginap) : Rp 325.000 / org / malam (2x makan)
  • Berkunjung ke Waerebo (Tidak Menginap) : Rp 200.000 / org (1x makan)
  • Porter ke Waerebo : Rp 200.000 (pp)
  • Acara khusus (Penti) : Rp 450.000 / org / malam
  • Acara khusus (Mbata) : Rp 250.000 / pentas

Danau Kelimutu atau biasa dikenal dengan Danau Tiga Warna merupakan salah satu danau yang memukau, berupa tiga kawah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, lebih tepatnya berada di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Danau Kelimutu berada di ketinggian kurang lebih 1639 m dengan luas area ketiga danau sekitar 1.051.000 m2 dan menampung volume air sekitar 1292 juta m3 (Wikipedia).

Sejarah Danau Kelimutu

Pertama kali kelimutu diketemukan oleh warga Belanda keturunan Lio, bernama Van Such Telen (Blasteran antara Belanda-sang Ayah dan suku Lio-sang Ibu), tahun 1915 (Wikipedia). Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Gunung Kelimutu (1640 mpdl) tumbuh didalam kaldera Sokonia atau Tubuss bersama dengan gunung Kelido (1641 mpdl) dan gunung Kelibara (1630 mpdl). Ketiganya membangun kompleks yang bersambungan kecuali gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari kaldera Sokonia. Dari ketiga gunung tersebut, gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih menunjukkan aktivitas vulkanologi sampai sekarang yang merupakan kelanjutan dari kaldera Sokonia. Dari puncak kelimutu terdapat 3 sisa kawah besar yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut sekarang berupa danau kawah dengan warna air yang berbeda dan ukuran diameter bervariasi, dimana ketiga danau tersebut bernama Tiwu Ata Polo (Danau Merah), Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (Danau Biru), dan Tiwu Ata Mbupu (Danau Putih). Berdasarkan catatan gunung kelimutu meletus dahsyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam Watukali, kemudian meletus kembali pada tahun 1869-1870 disertai aliran lahar dan membuat suasana gelap gulita disekitarnya dimana hujan abu dan lontaran batu hingga mencapai desa Pemo (Sumber: Direktorat Vulkanologi Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, 1990). Tercatat 11 kali aktivitas vulkanik di Taman Nasional Kelimutu sejak 1830-1997.

Setiap danau memiliki luas area dan kedalaman yang berbeda. Tiwu Ata Polo memiliki luas 4Ha dengan kedalaman 64 m, Tiwu Ata Mbupu memiliki luas 4.5Ha dengan kedalaman 67 m, dan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai memiliki luas 5.5Ha dengan kedalaman 125 m.

Suku lio di Flores percaya bahwa Danau Kelimutu menyimpan aura mistis dimana merupakan tempat persemayaman terakhir dari jiwa-jiwa orang yang meninggal. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata, merupakan acara adat yang diselenggarakan suku Lio di Flores untuk menghormati nenek moyang dimana diselenggarakan setiap tanggal 14 Agustus (tentatif). Suku Lio mempersembahkan berbagai makanan kepada leluhur sebagai tanda ungkapan terima kasih atas berkat tahun lalu dan berdoa untuk mendapatkan berkat tahun selanjutnya. Acara ini dimulai persiapan dan berkumpul di area parkiran, diikuti tracking menuju Tiwu Ata Polo dimana terletak altar mezbah batu, tempat diletakkannya segala persembahan makanan dan pusat acara ritual berlangsung.

Rute Perjalanan Menuju Danau Kelimutu

20160501_073819

Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende, Flores

Dari bandara El Tari di Kupang (Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur), wisatawan dapat menggunakan pesawat menuju Ende (Bandara H. Hasan Aroeboesman), yang berada di Pulau Flores, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Untuk ke Ende, wisatawan dapat menggunakan berbagai maskapai seperti Wings Air, Kalstar, dan Garuda Indonesia dengan budget harga tiket sekitar 400-800ribu, bahkan bisa lebih saat peak season. Setiba di Ende, perjalanan  dilanjutkan dengan menggunakan angkutan umum berupa mini bus, menuju moni yang berada di kaki gunung yang berjarak sekitar 66 km dengan waktu tempuh 2.5-3jam.

DSCN8916

Jalan Menuju Kelimutu

Saat dalam perjalanan, di beberapa titik sedang ada perbaikan jalan, sehingga janganlah heran dengan adanya beberapa unit alat berat yang sedang bekerja. Berdasarkan informasi yang didapat, perbaikan jalan ini dilakukan untuk menyambut ajang “Tour de Flores 2016”, event promosi pariwisata berbalut olahraga balap sepeda yang melintasi beberapa lokasi di pulau Flores.

Moni sendiri merupakan suatu desa yang berada di kaki gunung dimana banyak penginapan berupa lodge atau hotel kelas melati (umumnya merupakan rumah warga yang dimodifikasi menjadi beberapa kamar untuk tempat menginap) dengan budget sekitar 200-300ribu/malam. Moni merupakan lokasi yang sangat pas bagi wisatawan untuk menginap bila ingin mengejar sunrise di Danau Kelimutu. Dari Moni, wisatawan dapat menuju Gerbang Wisata Danau Kelimutu hanya 30 menit.

Kisah Perjalanan Menuju Danau Kelimutu

Pada bulan Mei 2016, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki saya di kawasan taman nasional yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. Ini merupakan pertama kalinya saya berpijak di bumi yang terkenal dengan alat musik tradisional Sasando dan kain tenunnya. Pada tanggal 02 Mei 2016, pukul 04.30 WITA, saya bersama teman-teman sharingcost trip yang berjumlah 22 orang, berangkat dari penginapan yang berada di daerah Moni, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Waktu yang dibutuhkan dari Moni menuju Gerbang Area Wisata Danau Kelimutu sekitar 30 menit.

Memasuki gerbang area wisata Danau Kelimutu, setiap wisatawan lokal yang berkunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp5.000/orang dan tarif kendaraan sebesar Rp10.000/kendaraan. Sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan tarif masuk sebesar Rp250.000/orang. Biaya yang tergolong terjangkau bagi wisatawan domestik bila dibandingkan dengan pengalaman berkesan yang akan didapatkan.

DSCN8902

Dari parkiran, setiap wisatawan harus tracking dengan jarak sekitar 2km (berjalan tracking sekitar 20 menit) menuju puncak gunung untuk melihat keindahan Danau Kelimutu. Wisata Danau Kelimutu merupakan wisata andalan nasional, jadi tidak salah bila fasilitas baik berupa jalur tracking yang sudah tertata dengan handrail pengaman di sekitar danau, beberapa saung untuk istirahat, dan toilet yang tersedia. Dibeberapa titik jalur tracking, wisatawan yang berkunjung dapat membeli beberapa selendang tenun khas flores dengan harga sekitar Rp50-100 ribu yang dijual oleh warga.

 

DSCN8911

Beberapa rambu sangat unik dan menarik ditambah penjelasan-penjelasan mengenai Area Wisata Danau Kelimutu di sepanjang jalur saat tracking memberikan informasi tambahan kepada wisatawan yang berkunjung. Untuk mengejar waktu sunrise di danau Kelimutu, pastikan anda membawa senter untuk menerangi jalan selama tracking karna tidak ada penerangan.

DSCN8876Sambil menunggu sang fajar, wisatawan dapat menyeruput segelas kopi, teh, atau berbagai minuman hangat lainnya yang dijual untuk menghangatkan diri di pagi hari yang cukup dingin dan udara yang tipis di puncak gunung selepas tracking. Sang fajar pun mulai menampakkan dirinya. Warna khas orange kekuningan mengikuti jejak sang fajar yang mulai menyingsing pun mulai terlihat. Sangat mempesona saat permukaan air danau memantulkan cahaya sang fajar.

DSCN8872

Danau Kelimutu sendiri sangatlah unik karena warna air yang selalu mengalami perubahan. Perubahan warna air danau erat kaitannya dengan aktivitas vulkanik dan perubahannya tidak mempunyai pola yang jelas tergantung kegiatan magmatik. Kalangan ilmuwan dan peneliti meyakini bahwa kandungan kimia, berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas aktivitas vulkanik dan sinar matahari adalah faktor penyebab perubahan warna air. Perubahan warna air yang tercatat dari tahun 1915-2011, Tiwu Ata Polo mengalami 44 kali perubahan, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai mengalami 25 kali perubahan dan Tiwu Ata Mbupu mengalami 16 kali perubahan.

DSCN8905DSCN8868

Danau Kelimutu sangat layak untuk dikunjungi karena menyimpan kemilau tersendiri dari ketiga danau. Pastikan anda meluangkan waktu anda untuk mengunjungi Taman Nasional Kelimutu bila anda sedang berkunjung ke Ende. Wonderful Indonesia!

20160502054704_IMG_3106

Credit photo: Parlindungan Manalu

Visit Flores (Video)