Posts Tagged ‘Mbaru Niang’

Desa Waerebo dapat terlihat pertama kali dari pos 3 Rumah Kasih Ibu, yang merupakan pos terakhir. Jejeran 7 buah rumah Mbaru Niang yang membentuk seperti tiga perempat tali busur lingkaran. Sekitar pukul 17.35, langkah kaki pun berhasil menapaki rumah bertipe panggung dengan atap berbentuk dua kerucut dan beratap daun lontar ini. Salah satu kawan pun memukul sebuah kentungan yang menjadi salah satu tradisi sebelum memasuki Waerebo. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat adat dapat mengetahui kedatangan tamu dan dapat mempersiapkan penyambutan tamu tersebut. Sebagai informasi, wisatawan yang berkunjung dilarang mengabadikan desa Waerebo dalam bentuk gambar apapun sebelum dilakukan proses penyambutan tamu oleh masyarakat adat Waerebo.

DSCN9141

Desa Waerebo di Pagi Hari dari Pos Rumah Kasih Ibu

Langkah Kaki di Waerebo

Perjalanan kurang dari 15 menit, menuruni lereng bukit, desa Waerebo pun berhasil dicapai. Kegelapan malam pun mulai meliputi sekitar karena waktu pun telah menunjukkan pukul 18.00. Langkah pun terhenti di salah satu Mbaru Niang yang terletak di tengah-tengah dari 7 Mbaru Niang. Rumah tersebut disebut Mbaru Gendang dan merupakan rumah terbesar dan menjadi rumah ketua adat dimana biasanya digunakan untuk menyambut tamu. Rumah adat Waerebo dibagi menjadi 2 yaitu Rumah utama (Rumah Gendang) dan 6 buah rumah Mbaru Gena (Rumah pendamping) dengan nama Mbaru Gena Mandok, Jintam, Ndorom, Jekong, dan Maro dimana Maro merupakan rumah yang dikhususkan sebagai guesthouse.

20160503_184736

Proses Penyambutan Tamu Desa Waerebo

Banyaknya wisatawan yang berkunjung pada hari kedatangan kami, membuat rombongan harus menunggu giliran. Keunikan tersendiri yang masih dipertahankan, tetua adat akan melakukan penyambutan per grup atau rombongan yang datang, tidak melihat jumlah dari grup tersebut. Memasuki area rumah utama, terlihat para ibu-ibu sedang memasak di tengah rumah utama dan sang tetua adat duduk di tengah rumah menghadap pintu masuk. Proses acara penyambutan pun dimulai dimana sang tetua adat berbicara dalam bahasa manggarai. Setelah itu, seorang masyarakat waerebo lainnya yang duduk disamping tetua adat pun mengutarakan inti dari pembicaraan dalam proses acara penyambutan tersebut dimana rombongan telah diterima oleh penduduk Waerebo.

niang-gendang

Rumah Gendang ( Source : bloodydirtyboots.wordpress.com )

Proses penyambutan pun selesai, pengambilan gambar desa Waerebo pun telah diijinkan. Sambil menunggu rumah yang akan dijadikan tempat menginap, beberapa pertanyaan pun dilayangkan kepada tetua adat, diiringi dengan pengambilan beberapa gambar di dalam rumah Mbaru Gendang ini. Mungkin rumah adat ini dikatakan rumah Gendang karena di dalam rumah ini, disimpan gendang yang digantung ditengah rumah dimana gendang tersebut biasa digunakan pada acara-acara adat.

20160503_185228

Gendang di Rumah Utama

Rombongan pun sangat beruntung karena ditempatkan pada rumah gena yang ada walaupun rombongan harus dipisah dalam dua rumah berbeda. Pembicaraan empat mata yang berhasil dilakukan setelah sebelumnya sempat diberitahukan bahwa rombongan yang berjumlah 22 orang akan ditempatkan di rumah baca karena jumlah rombongan yang banyak tidak dapat ditampung dalam satu rumah dan banyaknya wisatawan pada hari yang sama berkunjung di Waerebo.

DSCN9102

Salah Satu Mbaru Gena

Memasuki salah satu Mbaru Gena, tampak lantai papan kayu yang telah dilapisi tikar sebagai alas melingkar sisi kiri dan kanan bangunan. Sambil menunggu para mama yang sedang menyiapkan hidangan makan malam, segelas kopi arabica hangat pun dihidangkan. Saya sendiri bukanlah pecinta kopi, sehingga tidak bisa membedakan jenis kopi Arabica dari Waerebo dengan kopi dari daerah Indonesia lainnya. Kopi sendiri merupakan tanaman yang ditanam pada kebun-kebun masyarakat Waerebo. Kebun tersebut pun dikelola secara organic. Jenis kopi yang dihasilkan pun ada 4 macam yaitu kopi Arabica, kopi Robusta, kopi Columbia, dan kopi Luwak. Masyarakat Waerebo pun menjual hasil buminya kepada wisatawan yang datang. Untuk kopi Arabica organik dan kopi Robusta organik dijual seharga Rp 60.000. Untuk jenis kopi Columbia organik dijual seharga Rp 80.000 dan jenis kopi luwak organik dijual seharga Rp 200.000. Setiap kemasan telah dibuat modern dengan bungkus yang menarik dengan takaran per bungkus seberat 250 g.

Segelas kopi Arabica hangat berhasil menghangatkan tubuh dari dinginnya malam di Waerebo. Perbincangan dengan guide lokal dan seorang nenek penduduk Waerebo di Mbaru Gena yang ditempati pun mengisi waktu luang sambil menunggu makan malam. Selang beberapa waktu yang cukup lama, panggilan untuk makan malam pun tiba. Derap langkah kaki seribu sesegera mungkin menuju Mbaru Gena lain yang terletak disebelah tempat kami menginap, seraya perut yang sudah keroncongan meminta asupan makanan.

Kenikmatan Malam di Waerebo

DSC02614

Para Mama Penduduk Waerebo Memasak Untuk Makan Malam di Tengah Rumah (Foto oleh : Ibrahim Sihotang ) 

Ayam goreng dengan sayur labu ditambah dengan sambal ulak bertekstur kasar yang super pedas menjadi menu makan malam. Keunikan dari pembuatan menu makan malam ini adalah para mama penduduk Waerebo, memasak makanan di tengah rumah dengan menggunakan kayu bakar. Walaupun proses memasak makanan sedikit lebih lama, hal ini membuat masakan yang dibuat berbeda rasanya, sungguh kenikmatan rasa tersendiri. Mbaru Niang sendiri merupakan rumah yang harus selalu diasapi dari kegiatan memasak para mama atau pun pengasapan yang disengaja dari bawah rumah untuk menjaga rumah tersebut dari serangan rayap sehingga Mbaru Niang tersebut memiliki umur bangunan yang lebih lama.

Selepas mengisi isi perut, menikmati keindahan malam di Waerebo adalah ide terbaik untuk dilakukan. Malam yang begitu mempesona. Sayang sekali, jenis kamera yang dibawa tidak dapat mengabadikan salah satu momen terbaik di Waerebo. Keindahan langit malam di Waerebo dimana sangat jelas terlihat taburan bintang menghiasi angkasa. Sesuatu hal yang sangat lumrah bahwasanya mayoritas daerah timur Indonesia memang sungguh mempesona di malam hari karena belum banyaknya polusi yang ada dan masih asrinya lingkungan sekitar. Dinginnya udara malam, akhirnya, membuat langkah kaki pun mengarah kembali ke Mbaru Gena tempat menginap. Tubuh pun segera rebah di lantai kayu yang beralaskan tikar pada salah satu sudut dekat pintu masuk.

Perhatian Khusus di Waerebo

Alarm pun berbunyi sekitar pukul 05.00. Terlihat beberapa kawan pun melakukan ibadah shalat subuh di Mbaru Gena tempat menginap. Saya sendiri segera lari ke kamar mandi umum yang berada di dekat Mbaru Gena khusus guesthouse. Oh ya, bila anda berpikir bahwa akan kesulitan mengenai mck di Waerebo, sungguhlah pikiran tersebut salah besar. Karena terdapat 2 titik mck umum yang terdiri masing-masing 3 sekat ruang yang terletak di dekat Mbaru Gendang (rumah utama) dan di dekat Mbaru Gena khusus guesthouse. Mck pun terlihat cukup modern dengan adanya 1 unit kloset duduk, 1 unit kloset jongkok, dan 1 ruang sekat khusus untuk mandi dengan air yang telah dipompa dengan mesin menggunakan pipa hdpe menuju kamar mandi dari sumber air. Septic tank pun tersedia dan berada di belakang dari kamar mandi tersebut. Walaupun telah lebih modern, bangunan yang dibuat pun tetap mengindahkan bentuk bangunan adat Waerebo yang menjadi ciri khasnya dengan model atap kerucut dan beratap daun lontar.

DSCN9134

Salah Satu Bagian Pengkonversi Arus DC-AC Dari Solar Cell di Waerebo

Elektrifikasi di Waerebo pun telah menggunakan genset yang dioperasikan khusus malam hari. Selain itu, disetiap Mbaru Niang, terdapat solar cell dengan kapasitas kecil yang dikhususkan untuk beberapa lampu di dalam rumah. Pemerintah terlihat cukup serius menggarap Waerebo menjadi salah satu destinasi favorit Indonesia secara umum dan Provinsi Nusa Tenggara Timur secara khususnya. Pembuatan jalan aspal sepanjang 3km sampai dekat pos 1 di Wae Lomba, fasilitas MCK dan air bersih, elektrifikasi, dan puskesmas serta rumah baca yang tersedia adalah bukti-bukti otentik yang dapat dirasakan.

Sang Surya di Waerebo

Tempat terbaik untuk melihat naiknya sang surya di Waerebo adalah dari rumah baca. Dari sana, perlahan sang surya akan mencapai keposisinya perlahan dari balik hijaunya perbukitan yang mengelilingi Waerebo. Bias sinarnya menjadi warna kuning keorangean begitu memukau, menyinari ketujuh Mbaru Niang. Dari rumah baca pun terlihat sebagian dari Mbaru Niang mengeluarkan asap, pertanda adanya aktivitas memasak di dapur setiap rumah. Kejadian ini tidak disia-siakan oleh para wisatawan yang berkunjung, termasuk saya. Beberapa foto pun diambil sebagai buah kenang-kenangan berkunjung di desa eksotis ini.

20160504_065233

Keindahan Pagi Hari di Waerebo

Konstruksi Mbaru Niang

Selayaknya pribadi yang penasaran dengan keunikan Mbaru Niang, saya pun melakukan sedikit penelusuran mengenai struktur bangunan dan konstruksi dari rumah adat yang berbentuk kerucut ini.

mbaru-niang

Struktur Mbaru Niang (bloodydirtyboots.wordpress.com)

Mbaru Niang berasal dari bahasa setempat yang berarti rumah tinggi ( Mbaru = rumah ; Niang = tinggi ). Setiap Mbaru Niang memiliki 5 tingkat yang memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu :

  1. Lutur / Tenda, digunakan sebagai tempat tinggal (bagian dalam dimana disekat dengan papan menjadi 6 ruang untuk Mbaru Gena dan 8 ruang untuk Mbaru Gendang), berkumpulnya keluarga dan penyambutan tamu (pada bagian depan), dan memasak (pada bagian tengah ruangan). Diameter bangunan tingkat pertama ini adalah 11 meter dimana terlihat 9 tiang utama dari kayu worok dengan formasi 3 x 3 yang menandakan bahwa 9 bulan manusia baru dilahirkan dan terdapat 1 tiang utama setinggi 15 meter yang berada di tengah dan menjadi poros bangunan
  2. Lobo, digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari
  3. Lentar, digunakan untuk menyimpan benih tanaman pangan seperti padi, jagung
  4. Lempa Rae, digunakan untuk menyimpan cadangan bahan makanan dikala gagal panen
  5. Hekang Kode, dgunakan untuk upacara adat dengan menaruh sesaji kepada leluhur

Bila ditelisik dari tinjauan langsung terhadap Mbaru Niang, terlihat pondasi rumah tradisional ini adalah kayu yang ditanam (berdasarkan informasi didapat, pondasi kayu ditanam sekitar 2 meter) dan dilapis dengan plastik dan ijuk agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah sehingga umur dari pondasi bisa lebih tahan lama. Tiang utama berupa kayu worok dengan panjang 15 meter yang dipasang ditengah bangunan, dibantu 8 tiang disekelilingnya pada lantai pertama. Untuk atapnya sendiri berupa kumpulan bambu diameter 80mm berjumlah 116 batang dengan panjang beragam pada sisi vertikal dan diikat dengan kumpulan rotan  membentuk lingkaran mengelilingi bangunan. Penutup atapnya sendiri berupa daun lontar yang dilapis dengan ijuk. Uniknya dari Mbaru Nianga adalah sambungan bangunan pun tidak menggunakan paku, melainkan dengan sistem coak, pasak/pen dan diikat menggunakan tali rotan.

Berikut merupakan video menarik yang dibuat oleh akun @Vidour dari Youtube mengenai proses pembangunan ulang Mbaru Niang yang diprakarsai oleh Rumah Asuh.

Source : @Vidour (youtube)

 

IMG-20160504-WA0014

Flores Mei 2016

Advertisements